Earth Hour memang udah lewat. Kalau dikonversi ke waktu Indonesia, Earth Hour dilaksanakan pada tanggal 27 Maret kemaren. Animo masyarakat Indonesia (Jakarta) sangat menggelegak. Dimana-mana diserukan gerakan untuk membela bumi ini. Kalangan selebritas pun semuanya menyerukan untuk mengikuti gerakan mematikan lampu selama 1 jam penuh ini. Go Green. Vote for earth.
Tempat tinggal gwa saat ini, Samarinda. Rekan-rekan di bbm juga udah mulai broadcast message agar kita mengikuti selebrasi ini. Earth Hour. Nyatanya, tetangga sebelah rumah pun tampak tidak peduli dengan gerakan ini. Why? Kenapa? Apakah endorsement dari kalangan seleb tidak cukup bagi mereka?
Jawabannya simple. Untuk memenuhi listrik 24/7 saja PLN tidak bisa, apalagi mengikuti gerakan seperti ini. Masih bagus kemarin listrik masih mengalir. Wong biasanya saja bisa 8 jam dalam sehari listrik padam. Mending kalo siang, di mana matahari masih menjadi sumber cahaya alama. Ada beberapa saat padam listrik malah dilakukan di malam hari. Anak-anak sekolah jadi sulit untuk belajar (sok idealis gwa, I know). Tapi mungkin pikiran gwa akan seperti orang tua yang lain pada saat Insyaallah anak gwa lahir nanti. Belum lagi bencana kebakaran, karena masyarakat di Samarinda masih menggunakan lilin untuk penerangan sementara. Bayangkan saja, 8 jam menggunakan penerangan lilin lalu lupa dimatikan. Fuuuhh…
Pemerataan sumber daya sebaiknya bener-bener dilakuin. Kalimantan Timur merupakan lokasi SDA terbesar di Indonesia. Sewajarnya juga kota-kota dan desa-desa di sini juga mendapat perhatian yang luas. Jangan cuma disedot saja ke Jawa, tapi amdalnya tidak diperhatikan.
We will vote for Earth eventually. But first, vote ourselves for a better environment.
bener banget bro…
mumpung masih idup…kenapa gak dipakai ?..iya gak?…
hehehehe…
gwa puas nonton tuch pas tgl segitu
hehehehe, betul bro. bukannya ndak mendukung gerakan ini kok, tapi emang belum saatnya berpartisipasi aja. potensi energi yang ada saja belum maksimal digunakan kok.