Samarinda, kota yang mungkin menjadi pusat peredaran dari segala uang yang beredar di Kalimantan Timur, adalah sebuah kota yang sebenarnya dianugerahi oleh landscape yang sangat menawan. Kota yang dibelah oleh sungai terbesar di Indonesia, Sungai Mahakam. Perekonomian yang cukup maju dilihat dari pembangunan situs-situs yang lebih bersifat mercusuar. Bukan skeptis, tetapi memang seperti itu adanya. Tetapi bukan berarti sesuatu yang bersifat mercusuar adalah hal yang buruk bukan? Situs ini di luar pusat perbelanjaan yah, karena menurut gwa pusat perbelanjaan bukanlah situs sebuah kota.
Contoh yang paling oke adalah situs Masjid Islamic Center di tepian sungai Mahakam Samarinda. Masjid ini memiliki luas bangunan utama 43.500 meter persegi. Untuk luas bangunan penunjang adalah 7.115 meter persegi dan luas lantai basement 10.235 meter persegi. Sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 meter persegi dan lantai utama seluas 8.185 meter persegi. Sedangkan luas lantai mezanin (balkon) adalah 5.290 meter persegi. Pembangunan dilakukan oleh kontraktor ternama Total Bangun Persada. Penggunaan situs ini sesuai dengan fungsinya, dan jika diperhatikan, semuanya terpelihara dengan baik, baik kebersihannya, kerapiannya, dan pengunjung yang berdatangan pun mematuhi peraturan yang berlaku. Hal yang cukup menyejukkan, mengingat pelanggar aturan di Samarinda sudah tidak bisa dihitung jari.Sebenarnya yang lebih ingin gwa sorot adalah pembangunan Terminal Peti Kemas Palaran. Kalau dilihat dari infrastruktur di TPK Palaran, sudah oke punya. Menggunakan crane untuk mengangkat peti kemas yang langsung dibeli dari Vietnam. Sebagaimana terminal petikemas Koja di Jakarta yang digarap PT PP, Terminal Petikemas Palaran juga merupakan pelabuhan yang seratus persen baru, dimulai dari nol. Bukan hasil mengupgrade pelabuhan lama. Memiliki dermaga sepanjang 270 meter, terminal petikemas baru ini dilengkapi dengan lapangan penumpukan seluas 70.200 meter persegi, dan memiliki dua crane untuk bongkar-muat peti kemas. Sebagai perbandingan dari sisi infrastruktur TPK, di lokasi pelabuhan peti kemas yang lama di Samarinda, bongkar muat memakan waktu hingga lebih dari 2 minggu. Sedangkan di TPK Palaran, bongkar muat bisa dilakukan hanya dalam waktu 10 – 12 jam. Mantap!
Secara struktural TPK Palaran memang oke banget, tetapi infrastrukturnya belum mendukung. Perlu diketahui bahwa jalan protokol menuju TPK Palaran masih jauh dari spesifikasi yang seharusnya. Dari lebar jalan yang belum sesuai untuk dilewati truk kontainer, sampai dengan spesifikasi beban maksimum yang dapat dilewati jalan tersebut. TPK Palaran terletak di antara Samarinda dan Sanga-sanga, tepatnya di daerah Bukuan. Perjalanan darat dari Samarinda ke TPK Palaran menggunakan kendaraan roda empat yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu 30 menit, saat ini molor menjadi 1,5 jam. Kendaraan roda empat yang kecil loh yah. Kebayang untuk truk yang lebar dan panjangnya hampir memenuhi satu badan jalan.Dengan rencana pembangunan jalan tol Samarinda – Balikpapan, dan juga penyelesaian Jembatan Mahakam 2, mudah-mudahan pemerintah daerah Kaltim dapat dengan segera memperbaiki infrastruktur Samarinda. Jika jalan tol selesai, maka bisa dibayangkan jumlah kendaraan yang masuk ke Samarinda, dan juga truk-truk kontainer tentunya dapat menyebabkan kelebihan beban kendaraan. Minimal pemerintah kota Samarinda bisa juga melakukan benchmark ke tetangganya Balikpapan yang relatif lebih maju pembangunannya.
Sumber: saduran dari berbagai sumber


mantabb ulasannya…